Pages

Tampilkan postingan dengan label sanitasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sanitasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

[mini drama] PENYESALAN


Ken : (terjatuh) aduuhhh, maaaak kok barang-barang rongsokan ini ada di sini sih.
Bapak : kamu kan sejak kecil sudah tahu, kenapa pake nanya segala?!
Ken : emak, kata ibu guru di sekolah kita tidak boleh menimbun sampah di dalam rumah. Lagian ini..
Emak : kalau begitu suruh saja ibu gurumu itu ke sini buat bersih bersih (memotong pembicaraan ankanya)
Ken : hmm.. (jengkel)
Emak : sudah sana, nanti kamu dimarahi sama si basri dan telat lagi ke sokolah.
Ken : kalo aku telat aku gak akan pergi ke sekolah. Wleeeekkk
Emak : dasar anak nakal!!
Ken : (berlari dari emaknya yang siap memukulnya)
Bapak : dasar anak kecil. Seharusnya dia tak perlu lah pergi ke sekolah, untuk apa kalo hasilnya harus ngelawan orang tua.
Emak: biarlah pak, suatu saat nanti siapa tahu dia bisa menjadi orang besar.
Ayah : orang besar yang sok tahu maksudmu?! Masih kecil saja sudah sok tahu gitu, apalagi sudah besar nanti. Ayo berangkat, nanti rejeki kita dipatok ayam.
Begitulah keseharian keluarga kecil ini. ken, seorang anak berusia 10 tahun yang masih duduk di kelas 5 SD dan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai pemulung sampah. Keluarga kecil ini menggantungkan hidupnya pada memulung untuk memenuhi biaya makan, sedangkan untuk sekolah ken sendiri, ada dana BOS dan kekurangan biaya sekolahnya didapat dari hasilnya menjadi loper Koran pada Pak Basri.
Basri : harusnya kau lebih pagi lagi nak.
Ken : huh, besok aku akan menginap di tempat ini saja.
Basri : sudah ini. ke tempat biasa ya..
Ken : okkeee.
Ken mengayuh lagi sepeda kecilnya dengan menggunakan seragam sekolah.
Ibu guru : telat lagi ken?
Ken : yahh, saya keluar kelas deh buk
Ibu guru : ken duduk
Ken : heh? Makasih bukk (cengar-cengir)
Ibu guru : tapi jangan tidur di kelas
Andri : bukk ken bauuu
Risma : iyaaa, kamu duduk di belakang aja geh
Ken : ahh cerewet lagi kaaaan…
Andre : harusnya kamu gak usah ke sekolah sekalian, sono kerja aja jadi tukang Koran yang bau. Wekkkkk (mengejek ken)
Ibu guru : sudah diam!! (menggebrak meja)
Suasana tiba-tiba tegang…
Ibu guru : Kita mulai pelajarannya. Sekarang buka halaman 15..
Ken : aduuuhhh, lupa gak bawa buku… (menepuk jidat)
Romi : huh (menghela nafas panjang). Sudah sini sama aku aja.
Sementara itu..
bapak : (terjatuh)
Emak : ayah kenapa? Duduk dulu yuk.
bapak : (meneguk air) sudah ayo jalan, ayah baik baik saja kok.
Sepulang sekolah, seperti biasa ken mengunjungi rumah keduanya. Bangunan kosong di pinggir jalan dekat sekolahnya. Meski terdengar kabar tempat itu angker, anak-anak jalanan termasuk ken tidak peduli. Toh ken dan kawan-kawannya tak pernah mengganggu mereka.
Leo : ken, kamu mau ikut ngamen gak?
Ken : boleh boleh, dimana?
Leo : ayo ikut.
Ken : aku ganti baju dulu lah, bisa gak dapet kalo pake seragam gini.
Leo : ehh lo kagak tau?? Sekarang tuh orang-orang bakal lebih kasian ama kita kalo kita pake seragam, kan mereka bakal mikir duitnya buat sekolah
Ken : tumben otak lo kepake’.
Leo : kurang ajar. Ayook.
Di rumah..
emak : ayah belum baikan?1 Gimana kita mau makan kalo kamu sakit-sakitan gini pak. Inget pepatah, yang miskin gak boleh sakit. Ini obat penurun panasnya. Lelaki macam apa kalo sakit sedikit langsung tepar!!
Ken : aku pulaaaaang..
Emak : pinter yaaa, dari mana aja kamu?!  kenapa gak pulang pagi aja sekalian??
Ken : ngamen makk. Emang mangkal.
Emak : mana hasilnya??
Ken : buat jajan tadi, nih aku juga bawain martabak. Kan emak suka banget.
Emak : tau aja caranya bikin emak seneng.
Ken : hehehheee, eh bapak kenapa?
Emak : tepar, kecapekan mungkin. Jangan ribut, biar bapak bisa istirahat ya. Ehh mau kemana lagi? (menghentikan langkah anaknya)
Ken : mandi lah, lengket banget nih.
Emak : nggak ada air.
Ken : haduhh!!
Emak : makanya jangan telat pulang.
Ken : iyaaa (cemberut sambil menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal semua)
Sudah tiga hari sejak ayahnya sakit, si emak pun harus mencari sampah sendiri dan ken sendiri juga lebih rajin bekerja pada basri dan namen di jalanan. Emak beranak itu pun merasa aneh dengan demam suaminya yang naik turun.
Ken : makkk, untung cepet pulang.
Ken: kenapa?
Ken : kok tangan ayah ada bintik-bintik merah ya?? Jangan-jangan..
Emak : digigit nyamuk kali. Sana beli obat nyamuk (sambil memberi uang pada ken)
Ken : okeeee
Emak : ken, kamu sakit? Kok pucat gitu?
Ken : gak papa kok. Mungkin kecapek an juga kaya bapak. Aku tadi kan ngamen lagi ampe malem. Nih aja baru pulang. Udah ku ke warung mbak sarmi dulu.
Di warung mbak sarmi..
Ken : mbak beli obat demam dong, yang kaya biasa itu.
Mbak sarmi : loh, belum sembuh juga bapakmu ken? Kenapa gak dibawa ke dokter?
Ken : mahal mbak
Mbak sarmi : ka nada puskesmas. Gratis kok.
Ken : ke puskesmasnya kan juga butuh duit mbak. Mana ada bapak supir angkot yang mau gratisan nganter kita?
Mbak sarmi : iya juga. Eh ken, bilang ibu mu, utangnya yang bulan kemarin belum dibayar juga, katanya awal bulan ini mau dibayar, tapi kok gak kunjung dibayar ya. Aduh bisa bangkrut nih usahaku kalo pada ngutang semua.
Ken : iyaaaa. Makasih mbak..
Seminggu kemudian bapak pergi. Beliau pergi untuk selama-lamanya, tanpa pemeriksaan, tanpa perawatan dan juga tanpa pengobatan medis. Rasa kehilangan yang teramat sangat dirasakan oleh ibu Ken. Kini hanya dia dan ken yang ada, dan mereka berdua harus lebih giat bekerja karena tulang punggung kehidupan mereka sudah tiada. Namun sebulan berselang, Ken mulai dilanda demam. Sama seperti bapaknya, demamnya naik turun dan disertai bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Si emak tetap tidak mau menyadari bahwa anaknya sama seperti bapaknya, yakni terjangkit demam berdarah. Dia takut memeriksakan anaknya dan menerima kenyataan anaknya sakit. Apalagi biaya perawatan dan pengobatannya yang melebihi penghasilannya selama sebulan.
Emak : kamu ini laki-laki miskin, jangan sakit-sakitan. Cepet sembuh.
Ken : iya makk. Aku gak apa-apa kok. Hanya sedikit demam, mungkin karena kecapekan.
Emak : iyalah, emang apa lagi.
Seminggu kemudian, Ken, anak kesayangannya itu meyusul suaminya. Mungkin kini mereka sudah bahagua dan hidup bersama di sisiNya. Emak pun hanya bisa meratapi kepergian Ken. Dia tak percaya suami dan anaknya pergi dari hidupnya. Kini dia hidup sebatang kara. Rumah kardusnya sudah lenyap dimakan hujan dan ia menjadi penghuni jalanan. Rasa penyesalannya akibat kesalahannya dalam mengobati anak dan suaminya tak kunjung hilang. Andai dulu mereka ku bawa ke puskesmas, kalau butuh biaya aku akan mencari sampah ke seluruh negeri, batinnya.

LUSI P. R.

SANITASI INDUSTRI


Sanitasi dapat diartikan sebagai suatu upaya yang dilakukan untuk menjaga kebersihan demi menjaga kesehatan pekerja dan masyarakat di sekitar industri tersebut. sanitasi lingkungan industry dapat dilakukan dengan :
1.   
M  Menjaga simpanan air
Dalam industri terdapat 2 macam air menurut fungsinya, yaitu air untuk minum dan air untuk proses prduksi oleh karena itu dibutuhkan tempat penyimpanan yang berbeda untuk menjaga kualitas air sesuai dengan fungsinya itu.
2.   
 en  Menyediakan tempat pembuangan kotoran dan sampah
Untuk sampah non-B3 bisa dibuang ke tempat pembuangan sampah seperti kebanyakan sampah biasa, namun untuk sampah yang bersifat b3 perlu diolah terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir.
3.     
M   Menjaga kebersihan makanan
Segala bentuk makanan baik itu masih berupa bahan mentah sampai bahan jadi dari rodent (tikus) dan berbagai macam vektor penyebab penyakit, misal lalat, kecoa,dll.
4.     
M   Mencegah dan membasami vektor penyakit
Ini berhubungan erat dengan poin sebelumnya, yaitu menjaga kebersihan makanan. Untuk mencegah dan membasmi vector penyakit dapat dilakukan dengan upaya rajin-rajin membersihkan tempat kerja, menutup tempat-tempat genangan air, menyemprot nyamuk, dan mengontrol upaya-upaya pembersihan ini agar tetap berjalan optimal.
5.     
M   Menyediakan fasilitas sanitasi
Seperti tempat sampah, tempat cuci tangan dan sabunnya, tempat mandi, WC, menyediakan AC, dll.
6.     
K   Ketatarumahtanggaan
Dengan 5R yaitu Ringkas (memilah), Rapi (menata), Resik (membersihkan), Rawat (memantapkan) dan Rajin (membiasakan)

LUSI P. R.

Pengelolaan Limbah Cair Industri dengan Teknik Kolam Oksidasi

Suatu industri biasanya akan menghasilkan bahan buangan / limbah dari hasil industrinya. Limbah ini tentunya akan dapat merusak lingkungan jika tidak diolah dengan baik. Oleh karenanya suatu perusahaan harus bertanggung jawab penuh jika bahan buangan yang mereka miliki mengotori lingkungan mereka. Sehingga dibutuhkan suatu metode untuk menangani pengolahan limbah ini. Salah satu yang dapat digunakan untuk mengolah limbah khusunya limbah cair dari suatu industri dapat digunakan  teknik kolam oksidasi.
Kolam oksidasi merupakan salah satu teknik pengolahan limbah secara biologis yang memanfaatkan kerja organisme, alga dan dengan bantuan sinar matahari. Kolam oksidasi adalah salah satu teknologi pengolahan limbah cair  berupa kolam buatan dangkal  dengan  memanfaatkan proses alami dari ganggang dan bakteri dan teknologi ini berbentuk reaktor pengolahan air limbah secara biologis aerobik yang paling sederhana dan tertua serta merupakan perkembangan dari cara pembuangan limbah cair secara langsung ke badan air.

Kolam ini lebih cocok digunakan pada negara negara tropis seperti Indonesia akibat pancaran energi matahari yang tinggi . Pembuatan dan pengoperasian kolam  yang relatif murah serta sangat efisien menghancurkan parasit dan bakteri pathogen. 

         Cara kerja kolam ini sangatlah sederhana yakni berbagai jenis mikroorganisme berperan dalam proses perombakan, tidak terbatas mikroorganisme jenis aerobik, tetapi juga mikroorganisme anaerobik. Organisme heterotrof aerobik dan aerobik berperan dalam proses konversi bahan organik; organisme autotrof (fitoplankton, alga, tanaman air)mengambil bahan anorganik (nitrat dan fosfat) melalui proses fotosintetsis. Karena lamanya waktu tinggal limbah cair, maka organisme dengan waktu generasi tinggi (zooplankton, larva insekta, kutu air, ikan kecil) juga dapat tumbuh dan berkembang dalam sistem kolam. Organisme tersebut hidup aktif di dalam air atau pada dasar kolam. Komposisi organisme sangat tergantung pada temperature udara, suplai oksigen, sinar matahari, jenis dan konsentrasi substrat.
            kolam harus dirancang untuk penghilangan karbon dengan fermentasi metana ataukonversi bahan berkarbon menjadi ganggang dengan penghilangan sel ganggang dari efluen. Bakteri bertanggung jawab untuk proses-proses oksidasi dan reduksi yang berlangsung dalam kolam. Ganggang memegang peranan dalam menggunakan kelebihan karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Penampilan kolam oksidasi yang memuaskan tergantung pada kesetimbangan antara bakteri dengan ganggang, seperti yang disebabkan oleh muatan limbah yang tinggi atau hambatan oleh metabolism ganggang akan menyebabkan pemecahan oksigen, abu yang mengganggu, dan mutuefluen yang buruk. Aktivitas ganggang yang berlebihan, seperti yang disebabkan oleh kelebihan nutrient ganggang dan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan ganggang, akan menyebabkan kelebihan sel-sel ganggang dalam efluen. Konsep bahwa limbah organik distabilkan atau dioksidasi dalam kolam oksidasi hanya berlaku dalam arti limbah organik diubah dalam bentuk organik yang lebih stabil yaitu sel-sel ganggang. Kolam oksidasi adalah generator bahan organik karena sel-sel ganggang diproduksi. Pencampuran, suhu, dan radiasi merupakan faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan konsentrasi ganggang dalam kolam oksidasi. Dalam kolam oksidasi yang berfungsi dengan baik, sel-sel ganggang akan lebih banyak diproduksi daripada hanya dihasilkan dari karbon metabolisme hasil metabolisme bakteri karena arbon dioksida dalam kolam juga dapat digunakan.

Hasil akhir adalah peningkatan bahan organik dalam sistem. Penghilangan karbon dioksida dalm air kolam akan meningkatkan pH air. Dalam kolam oksidasi yang aktif, pH meningkat hingga di atas 9.0 Kebutuhan oksigen dalam kolam oksidasi harus sebanding dengan atau kurang dari produksi oksigen fotosintetik bila kondisi anaerobik tidak diinginkan. Akan tetapi, reaksi anaerobik memegang peranan utama dalam stabilisasi BOD dalam suatu kolam oksidasi, seperti yang mungkin terjadi pada bagian kolam yang lebih bawah, diinginkan karena bila tidak akan timbul bau dan kondisi yang menganggu atau efisien menjadi lebih rendah
            Sehingga jika kolam oksidasi dapat diterapkan pada setiap industri yang ada di Indonesia, maka niscaya kerusakan lingkungan akibat limbah buangan ini sedikit demi sedikit akan dapat dikurangi.



Selasa, 12 Juli 2011

Sanitasi Kantin Perusahaan



Hmmm, kalo denger kata kantin, pasti yang kebayang langsung makanan. Kantin biasanya juga di pakai sebagai sarana istirahat bagi orang – orang atau karyawan – karyawan yang sedang menggunakan waktu istirahtnya. Tak pelak, kantin juga di jadikan tempat saling curhat di antara karyawan, hohohooh,,,
Tapi tahukah kamu, bahwa suasana kantin juga sangat mempengaruhi keinginan seseorang untuk lama – lama bersenda gurau dengan sesame rekan kerja. Jadi setiap perusahaan harus sangat memperhatikan dengan benar suasana kantin yang seperti apa yang diharapkan oleh karyawannya sehingga mereka merasa betah diam di kantin,, Oke mari kita telusuri!!!
Sebelumnya mari kita berkenalan dengan kantin itu apa?
Kantin sangatlah berbeda dengan ruang makan dimana orang – orang masih banyak yang mencampur adukkan pengertian antara kantin dan ruang makan. Kantin adalah suatu sarana makan di perusahaan atau organisasi yang biasanya terdiri dari ruang makan dan sarana pendukung ( dapur, tempat penyimpanan ), sedangkan yang dimaksud dengan ruang makan adalah sarana makan paling sederhana ( suatu ruangan dengan perabotan dimana tenaga kerja duduk dan makan saat jam makan).
Pengadaan kantin dan ruang makan di perusahaan di lihat dari jumlah karyawannya  ( Menteri Tenaga Kerja &Transmigrasi SE 01 /MEN/1979 )  dimana perusahaan dengan jumlah karyawan 50 – 200 orang menyediakan ruang makan, dan perusahaan dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 200 orang harus menyediakan kantin perusahaan.
Lalu bagaimana pengelolaan sanitasi kantin perusahaan??  Ada 4 faktor yang harus di perhatikan yakni :
1.      Pengolahan, Pembelian dan Penyimpana è termasuk pembelian bahan mentah, pemisahan bahan baku dan bahan yang sudah di masak, tidak bersentuhan langsung dengan bahan yang dimasak, serta alat  - alat yang digunakan harus bersih.
2.      Transportasi è alat pengangkut yang digunakan harus bersih dan baik, serta bahan baku / jadi harus tertutup dengan baik agar tidak terkontaminasi.
3.      Distribusi è Alat yang digunakan harus bersih dan cara pendistribusian yang baik dan benar sehingga tidak terkontaminasi.
4.      Konsumsi è Sebelum makan tenaga kerja harus cuci tangan dulu, cuci muka berkumur dang anti baju kerja dengan pakaian yang bersih.

Lalu berdasarkan DEPKES RI 1992, pengelolaan dapur di kantin perusahaan yang baik dengan cara :
1.      Letak Dapur è mudah dicapai oleh tenaga kerja dan dari semua ruang makan, tidak langsung berhubungan dengan tempat kerja, tidak dekat dengan tempat sampah, mudah dicapai dari kendaraan dari luar.
2.      Ruangan è Luas dapur 1/7 – 1/5 dari jumlah tenaga kerja
3.      Ventilasi è harus baik dan berdekatan dengan ruang makan.
4.      Konstruksi Dapur è Dinding dari keramik yang cukup memantulkan cahaya agar tidak banyak lalat dan gampang dibersihkan jika ada lemak yang menempel, Lantai bahan kedap air, dan tidak licin serta tahan asam, Langit – langit yang memiliki peredam suara.
5.      Peralatan dapur dianjurkan dari bahan stainless steel.
Kemudian fasilitas sanitasi yang ada di kantin biasanya ada air bersih,  wastafel cuci tangan, pembuangan air limbah sisa masakan dan makanan, serta adanya tempat pembuangan sampah. Sehingga tetap disarankan untuk menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan kerja. Dan yang paling penting untuk diperhatikan bagi pemilik perusahaan agar karyawan mau memanfaatkan konsumsi makan di kantin adalah fasilitas kanti ( berisi TV, AC atau live music ), letak kantin yang mudah dijangkau, lingkungan fisik kantin yang masih bagus, serta pola penyusunan menu yang diatur agar tidak membuat tenaga kerja merasa kebosanan.

Minggu, 03 Juli 2011

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah salah satu Program Nasional di bidang sanitasi yang bersifat lintas sektoral. Program ini telah dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI.


Namun sebelum terlalu jauh membahas apa itu STBM lebih dulu kudu tau apa itu sanitasi.
CEKIDOT. . .



Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. 

Mandi merupakan salah satu bentuk sanitasi yang membuat tubuh tetap sehat, wangi dan segar sepanjang hari.


Kembali ke bahasan awal tentang STBM atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Dari pengertian sanitasi sebelummnya dapat sedikit kita mengerti bahwa STBM ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membuat pembudayaan hidup bersih secara meyeluruh dalam masyarakat untuk menurunkan kejadian penyakit diare beserta penyakit lainnya yang berbasis sanitasi dan kebersihan.
Ada indikator output STBM yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu:
  1. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
  2. Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
  3. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
  4. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
  5. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.
Dibeberapa masyarakat program ini dikenal dengan jambanisasi karena dibangunnya jamban saniter pada daerah-daerah yang sebagian besar penduduknya belum memiliki jamban dan masih suka buang air di sungai. Akan tetapi program ini mendapatkan masalah diakhir, karena penduduknya tidak bersedia untuk memanfaatkan jamban dan masih tetap lebih menyukai sungai sebagai tempat mereka buang hajat. Permasalahan ini menunjukkan bahwa pemerintah kurang melakukan kajian dalam aspek sosioantropologi dari masyarakat sasaran karena terlalu terfokus pada segi aspek kesehatannya semata. Untuk tahapan selanjutnya akan lebih baik jika ditambahkan proses sosialisasi kepada para penduduk yang "membandel" tak mau buang air di jamban itu, dengan merangkul serta pihak-pihak yang berpengaruh di desa-desa tersebut. 
(linna n)